Minggu, 29 Oktober 2017

Makalah HAKEKAT PENDIDIKAN

BAB I

PENDAHULUAN


A. LATAR BELAKANG

Pendidikan merupakan kegiatan yang sangat penting bagi penyiapan anak-anak untuk menghadapi kehidupannya di masa mendatang. Bahkan gejala proses pendidikan ini sudah ada sejak manusia ada, meskipun proses pelaksanaanya masih sangat sederhana. Namun hal ini merupakan fenomena bahwa proses pendidikan sejak dahulu kala sudah ada. Karena begitu sederhananya proses pendidikan pada jaman dahulu kala itu maka dirasa orang tidak menyadari bahwa apa yang dilakukan itu adalah proses pendidikan.
Proses pendidikan memang masalah universal, dialami oleh setiap bangsa atau suku bangsa. Oleh karena itu akan terpengaruh oleh berbagai fasilitas, budaya, situasi serta kondisi bangsa atau suku bangsa tersebut. Dengan demikian akan terlihat adanya perbedaan-perbedaan yang dapat dilihat dalam pelaksanaan pendidikan tersebut. Namun yang jelas akan kita lihat adanya kesamaan tujuan yakni untuk mendewasakan anak dalam arti anak akan dapat berdiri sendiri di tengah masyarakat luas. Lebih-lebih bila di lihat di Negara-negara yang sudah maju akan jauh berbeda pelaksanaanya disbandingkan dengan di Negara-negara atau daerah-daerah yang belum maju.


 B.     Rumusan Masalah

Ditinjau dari latar belakang dapat memunculkan beberapa permasalahan yaitu,
         Apa Hakikat Pendidikan
         Pengertian dari pendidikan
         Tujuan dari pendidikan
         Unsur-unsur dari pendidikan





BAB II

PEMBAHASAN

A.     HAKIKAT PENDIDIKAN

Pendidikan adalah suatu proses interaksi manusiawi antara pendidikan dengan subjek didik untuk mencapai tujuan pendidikan. Proses itu berlangsung dalam lingkungan tertentu dengan menggunakan bermacam-macam tindakan yang disebut alat pendidikan.

B.     PENGERTIAN PENDIDIKAN

Istilah pendidikan berasal dari bahasa Yunani “pedagogia” yang akar katanya “pais” yang berarti anak dan “again” yang artinya bimbingan. Jadi “pedagogia” berarti bimbingan yang diberikan kepada anak untuk proses pertumbuhannya ke daerah berdiri sendiri dan bertanggung jawab. Dalam bahasa inggris pendidikan diterjemahkan menjadi “Education”. Education berasal dari bahasa Yunani “educare” yang berarti pendidikan.

Pengertian pendidikan secara Etimologis (arti kata) 
a.   Bahasa Indonesia 
WYS Purwodarminto (Kamus, 1976) mengartikan kata pendidikan sebagai perbuatan (hal, cara) mendidik. Sedang arti kata mendidik adalah memelihara dan memberi latihan (ajaran, pimpinan) mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. 
b.      Bahasa Jawa 
Panggulawentah berarti mengolah, membina kejiwaan dengan mematangkan perasaan, kemauan dan watak sang anak. 
c.       Bahasa Belanda 
Dalam bahasa belanda ada istilah “opvoeding” yang diartikan pendidikan. Pada awalnya berarti “membesarkan” dengan memberi makan, jadi membesarkan dalam artian jasmaniah. Akan tetapi lambat laun “tindakan membesarkan” dengan memberi makan, ini dikenakan juga pada pertumbuhan rokhani anak, jadi pertumbuhan pikiran, perasaan dan kemauan anak serta pertumbuhan wataknya.
Dalam arti yang luas opvoeding berarti tindakan untuk membesarkan anak dalam arti geestelyk (kebatinan, jawa).
d.      Bahasa Jerman 
Dalam bahasa jerman adaistilah erziehung yang artinya hampir sama dengan educare, yang berarti mengeluarkan atau menuntun.


Definisi dari para ahli atau tokoh pendidikan 
a.       Langeveld
“Mendidik adalah memberikan pertolongan secara sadar dan sengaja kepada seoarang anak (yang belum dewasa) dalam pertumbuhannya menuju kearah kedewasaan dalam arti berdiri sendiri dan bertanggung jawab sesuai atas segala tindakan-tindakannya menurut pilihannya sendiri (Yassin, 1965.)”

b.      John Dewey
seorang ahli filsafat pendidikan Amerika pragmatisme dan dinamis, pendidikan (education) diartikan sebagai “Proses pembentukan kecakapan-kecakapan fundamental secara intelektual dan emosional ke arah alam dan sesama manusia”. Menurutnya hidup itu adalah suatu proses yang selalu berubah, tidak satupun yang abadi. Karena kehidupan itu adalah pertumbuhan, maka pendidikan berarti membantu pertumbuhan bathin tanpa dibatasi oleh usia. Dengan kata lain pendidikan adalah suatu usaha manusia untuk membantu pertumbuhan dalam proses hidup tersebut dengan membentukan kecakapan fundamental atau kecakapan dasar yang mencakup aspek intelektual dan emosional yang berguna atau bermanfaat bagi manusia terutama bagi dirinya sendiri dan bagi alam sekitar.

c.       Ki Hajar Dewantara
Pedidikan yaitu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mendapat keselamatan dan kebahagian yang setinggi-tingginya (Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa, 1962.)
Dilihat dari aspek-aspeknya maka “pendidikan berarti daya upaya untuk memajukan perkembangan budi pekerti (kekuatan batin), pikiran (intelek) dan jasmani anak-anak” (Majelis Luhur Taman Siswa,1957)
Maksudnya supaya kita dapat memajukan selaras dengan alamnya dan masyarakat. Jika hal itu berhubungan dengan sistem amongnya Taman Siswa yaitu semboyan yang telah merakyat : Ing ngarso sung tulodo, Ing madyo mangun karso, Tut wuri handayani, (Ki Hajar Dewantara, 1952 : 221), maka upaya untuk memajukan anak berarti menyikapi subyek didik sebagai pribadi  (persona) yang potensialuntuk berdiri dan maju ats kekuatannya sendiri. Ini juga berarti Taman Siswa memandang (menilai) Pendidikan sebagai sesuatu upaya untuk menyediakan situasi, kondisi dan fasilitas yang dapat memberikan pengalaman belajar yang relevan dengan masa depan (Wawasan Kependidikan Guru Akta V : 94) . Hal ini menunjukkan bahwa Ki Hajar Dewantara berwawasan ke depan dalam berfikir pendidikan.
  d.      GBHN
Di dalam GBHN tahun 1973 disebutkan bahwa pendidikan pada hakikatnya adalah usaha sadar untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan di dalam dan di luar sekolah dan berlangsung seumur hidup.
Negara (Tap MPR No.II/MPR/1988), dinyatakan sebagai berikut:
Pendidikan pada hakekatnya adalah usaha sadar untuk mengembangkan kepribadian dengan kemampuan di dalam dan di luar sekolah dan berlangsung seumur hidup dan dilaksanakan dalam lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Karena itu pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat, dan pemerintah.


Dari uraian di atas, maka pendidikan dapat diartikan sebagai :
1.      Suatu proses pertumbuhan yang menyesuakan dengan lingkungn;
2.      Suatu pengarahan dan bimbingan yang di berikan kepada anak dalam pertumbuhannya;
3.      Suatu usaha sadar untuk menciptakan suatu keadaan atau situasi tertentu yang di kehendaki oleh masyarakat;
4.      Suatu pembentukan kepribadian dan kemampuan anak dalam menuju kedewasaan.

 
 
C.     TUJUAN PENDIDIKAN
Fungsi pendidikan dari kacamata barat yaitu melahirkan individu-individu yang pragmatis yang bekerja untuk memperoleh kejayaan material dan profesional sosial yang memberi kesejahteraan kepada diri, industri dan negara. Diupayakan pendidikan berawal dari manusia apa adanya atau aktualisasi dengan mempertimbangkan segala kemungkinan yang apa adanya atau potensialitas dan manusia tersebut diarahkan menuju terwujudnya pribadi yang dicita-citakan atau idealitas.

Tujuan dari pendidikan adalah manusia atau individu yang bertaqwa dan beriman kepada Tuhan YME, mempunyai akhlak mulia, cerdas, sehat, berkemauan, berperasaan, dan dapat berkarya untuk memenuhi kebutuhan secara wajar, dapat mengendalikan hawa nafsu, bermasyarakat, berbudaya, dan berkepribadian. Sehingga implikasi dari pendidikan mampu mewujudkan atau mengembangkan segala potensi yang ada pada diri manusia dalam berbagai konteks dimensi seperti moralitas, keberagaman individualitas (personalitas), sosialitas, keberbudayaan yang menyeluruh dan terintegrasi. Dapat dikatakan juga bahwa pendidikan mempunyai fungsi untuk memanusiakan manusia.

Tujuan pendidikan nasional harus sesuai dengan Tap MPRS No. XXVI/MPRS/1966 tentang agama, pendidikan dan kebudayaan, sehingga dirumuskan bahwa tujuan dari pendidikan adalah membentuk manusia pancasila sejati berdasarkan pembukaan UUD 1945. Dalam UU No. 2 tahun 1989 juga ditegaskan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah mencerdaskan kehidupan bangsa serta mengembangkan manusia indonesia seutuhnya dengan artian bahwa manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan YME, memiliki budi pekerti luhur, memiliki ketrampilan dan pengetahuan, kesehatan jasmani dan rohani, memiliki pribadi yang baik, mandiri, dan memiliki rasa tanggung jawab kemasyarakatan, kebangsaan.

Jadi dapat disimpulkan bahwa tujuan dari pendidikan adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.


D.     FUNGSI PENDIDIKAN
Dalam membahas fungsi pendidikan ini akan difokuskan pada fungsi pokok pendidikan, yakni :
1.      Pendidikan sebagai penegak nilai.
2.      Pendidikan sebagai sarana pengembang masyarakat.
3.      Pendidikan sebagai upaya pengembangan potensi manusia.

Berikut penjelasan fungsi pokok pendidikan

1.      Pendidikan sebagai penegak nilai
Dalam kehidupan sehari-hari kita selalu tidak lepas dari keterikatan dengan nilai-nilai, baik nilai itu berupa nilai-nilai keagamaan maupun nilai kemasyarakatan yang ada di sekitar kita. Agarr bisa aman dan selamat dalam kehidupan sehari-hari pasti harus memperhatikan dan melaksanakan nilai-nilai yang ada di dalam masyarakat kita itu.
Oleh karena itu dalam kehidupan sehari-hari orang harus melaksanakan nilai-nilai yang ada dimasyarakat yang diyakini sebagai nilai yang baik, dalam arti nilai dipilih dan dilaksanakan itu tidak bertentangan dengan agama yang kita anut (dalam hal ini nilai-nilai agamis) serta nilai-nilai kemasyarakatan yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai agama yang di anut. Hal ini akan menunjukkan bahwa dalam kehidupan tidak pernah bisa dihindari pelaksanaan nilai-nilai itu.
Pendidikan sebagai penegak nilai artian memelihara serta menjaga tetap lestarinya nilai-nilai tersebut dalam masyarakat.

2.      Pendidikan sebagai sarana pengembang masyarakat
Proses pendidikan selalu terjadi dalam lingkungan masyarakat. Hal ini memang tidak aneh karena pendidikan itu memang bertujuan untuk mengembangkan masyarakat itu sendiri. Dengan demikian masyarakat itu sendiri akan selalu mengembangkan dirinya secara terus menerus. Proses ini akan berlangsung secara terus menerus selama masyarakat itumasih ada. Lebih-lebih dalam masyarakat modern seperti sekarang ini masyarakat akan lebih dinamis lagi untuk memajukan masyarakatnya dalam rangka mengikuti kemajuan jaman.
Dari sedikit uraian ini akan dapat kita pahami bahwa pendidikan itu berasal dari masyarakat yang bersangkutan dan bertujuan untuk mengembangkan masyarakat itu sendiri. Dengan singkat dapat dikatakan pendidikan dari, dalam dan untuk masyarakat itu sendiri. Dari kenyataan tersebut maka jelas dapat kita ketahui bahwa suatu masyarakat akan maju apabila masyarakat itu sendiri mau aktif membina diri mereka sendiri disamping kita juga tidak bisa menutup mata bahwa kemajuan tersebut tidak lepas pula dari pengaruh masyarak sekitarnya.
Oleh karena itu kiprah pendidikan dalam suatu masyarakat akan sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan masyarakat yang bersangkutan.

3.      Pendidikan sebagai upaya pengembangan potensi manusia
Dalam mengembangkan nilai-nilai yang hidup ditengah-tengah masyarakat ini secara langsung ataupun tidak langsung akan terkait dengan pengembangan kemampuan manusia. Dengan melewati proses pendidikan diharapkan anak-anak akan di matangkan untuk bisa menjadi anggota masyarakat yang baik.
Proses pematangan-pematangan seperti itu akan dapat membawa peserta didik sebagai generasi peserta yang potensial dalam kehidupan sehari-hari di tengah masyarakat yang luas.
Sikap kritis, aktif dan kreatif sangat diperlukan dalam penyiapan diri untuk menggantikan generasi tua oleh generasi muda sebagai generasi penerus. Dengan sikap kritis anggota masyarakat yang telah terdidik itu akan berpengaruh terhadap kemampuan anggota-anggota masyarakat untuk mengkritisi keadaan lingkungannya sehingga masyarakat menjadi lebih maju dan berkembang.


E.     UNSUR-UNSUR PENDIDIKAN
Unsur-unsur pendidikan terdiri dari beberapa faktor. Dalam aktivitas pendidikan ada enam faktor pendidikan yang dapat membentuk pola interaksi atau saling mempengaruhi.
 Ke enam faktor pendidikan tersebut meliputi :
 a.       Faktor Tujuan
Dalam praktek pendidikan, baik di lingkungan keluarga, di sekolah, maupun di masyarakat luas, banyak sekali tujuan pendidikan yang di inginkan oleh pendidik agar dapat di capai (di miliki) oleh peserta didiknya. Menurut Langeveld dalam bukunya Beknopte Teoritidche Pedagogik di bedakan adanya macam-macam tujuan sebagai berikut :
1.      Tujuan umum
2.      Tujuan tak sempurna (tak lengkap)
3.      Tujuan sementara
4.      Tujuan perantara
5.      Tujuan insidental.

b.      Faktor Pendidik
Kita dapat membedakan pendidik itu menjadi 2 kategori , ialah
1.      Pendidik menurut kodrat, yaitu orang tua dan
2.      Pendidik menurut jabatan, ialah guru

Orang tua sebagai pendidik menurut kodrat adalah pendidikan pertama dan utama, karena secara kodrati anak manusia dilahirkan oleh orang tuanya (ibunya) dalam keadaan tidak berdaya. Hanya dengan pertolongan dan layanan orang tua (terutama ibu) bayi (anak manusia) itu dapat hidup dan berkembang makin dewasa. Hubungan orang tua dengan anaknya dalam hubungan edukatif, mengandung 2 unsur dasar, yaitu :
1.      Unsur kasih sayang pendidik terhadap anak;
2.      Unsur kesadaran dan tanggung jawab dari pendidik untuk menuntun perkembangan anak.

Guru sebagai pendidik menurut jabatan menerima tanggung jawab dari 3 pihak, orang tua, masyarakat, dan negara. Tanggung jawab dari orang tua diterima guru atas dasar kepercayaan, bahwa guru mampu memberikan pendidikan dan pengajaran sesuai dengan perkembangan peserta didik. Dan diharapkan pula dari pribadi guru memancar sikap-sikap dan sifat-sifat yang normatif baik sebagai kelanjutan dari sikap dan sifat orang tua pada umumnya, antara lain:
1.      Kasih sayang kepada peserta didik;
2.      Tanggung jawab kepada tugas pendidik.

c.       Faktor Peserta Didik
Dalam pendidikan tradisional, peserta didik dipandang sebagai organisme yang pasif, hanya menerima informasi dari orang dewasa. Kini dengan makin cepatnya perubahan sosial, dan berkat penemuan teknologi, maka komunikasi antar manusia berkembang amat cepat. Peserta didik dalam usia dan tingkat kelas yang sama bisa memiliki profil materi pengetahuan yang berbeda-beda. Hal ini tergantung kepada konteks yang mendorong perkembangan seseorang. Ada 4 konteks yang dapat disebutkan, yaitu :
1.      Lingkungan dimana peserta belajar secara kebetulan dan kadang-kadang, disini mereka belajar tidak berprogram;
2.      Lingkungan belajar dimana peserta didik belajar secara sengaja dan dikehendaki;
3.      Sekolah dimana peserta didik belajar mengikuti program yang di tetapkan;
4.      Lingkungan pendidikan optimal, disekolah yang ideal dimana peserta dapat melakukan Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) sekaligus menghayati/mengimplisitkan nilai-nilai.
Secara teoretis peserta didik bisa berkembang secara optimal dalam arti mampu berkembang kreatif optimal, jika mendapat konteks lingkungan ke empat tersebut.

d.      Faktor isi / materi pendidikan
Yang termasuk dalam arti atau materi pendidikan ialah segala sesuatu oleh pendidik langsung diberikan kepada peserta didik dalam rangka mencapai tujuan pendidikan. Dalam usaha pendidikan yang di selenggarakan di keluarga, disekolah dan di masyarakat, ada syarat utama dalam pemilihan beban atau materi pendidikan, yaitu:
1.      Materi harus sesuai dengan tujuan pendidikan ;
2.      Materi harus dengan peserta didik.

e.       Faktor metode pendidikan
Peristiwa pendidikan ditandai dengan adanya interaksi edukatif. Agar interaksi ini dapat berlangsung secara efektif dan efisien dalam mencapai tujuan, maka disamping dibutuhkan pemilihan bahan atau materi pendidikan yang tepat, perlu dipilih metode yang tepat pula. Metode adalah cara yang di dalam fungsinya merupakan alat untuk mencapai tujuan. Untuk menentukan apakah sebuah metode dapat disebut baik diperlukan patokan (kriterium) yang bersumber pada beberapa faktor. Faktor utama yang menentukan adalah tujuan yang akan dicapai.

f.       Faktor situasi lingkungan
Situasi lingkungan mempengaruhi proses dan hasil pendidikan. Situasi lingkungan ini meliputi lingkungan fisis, lingkungan teknis, dan lingkungan sosio-kultural. Dalam hal-hal dimana situasi lingkungan ini berpengaruh secara negativ terhadap pendidikan, maka lingkungan itu menjadi pembatas pendidikan.



PENUTUP

  KESIMPULAN
Dari uraian di atas dapat kami simpulkan bahwa :
Ø  Hakikat pendidikan adalah suatu proses interaksi manusiawi antara pendidikan dengan subjek didik untuk mencapai tujuan pendidikan.
Ø  Pendidikan adalah aktivitas dan usaha manusia untuk meningkatkan kepribadiannya dengan jalan membina potensi-potensi pribadinya, yaitu rohani (pikir, karsa, rasa, cipta dan budi nurani) dan jasmani (panca indera serta ketrampilan-ketrampilan).
Ø  Tujuan pendidikan adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Ø  Fungsi pendidikan anatara lain :
·         Pendidikan sebagai penegak nilai.
·         Pendidikan sebagai sarana pengembang masyarakat.
·         Pendidikan sebagai upaya pengembangan potensi manusia.
Ø  Unsur-unsur pendidikan
·         Tujuan
·         Pendidik
·         Peserta didik
·         Isi/materi pendidikan
·         Metode pendidikan
·         Situasi lingkungan.








DAFTAR PUSTAKA

Drs. H. Fuad Ihsan, Dasar-Dasar Kependidikan.
Tirtarahardja,Umar,.S.L.La Sulo (2010).Pengantar Pendidikan.Jakarta:Rineka Cipta
Prof.Dr.Mv.Roesminingsih, M.Pd , Drs.Lamijan Hadi Susarno, M.Pd , Teori Dan Praktek Pendidikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar